1. Home
  2. Archives
  3. Vol 2 (2013) Issue 1
  4. Articles

Land Use Change Mapping in Coastal Areas Subdistrict South Bontang, Bontang, East Kalimantan Province And Its Impact on Socio-Economic Aspects

Abstract

. The coastal area is a center of social activity and economic activity. As a center of social and economic activities, the coastal areas are potential areas to be developed and utilized as a result that there will be changes and land uses in the form of land use. Land use is a form of physical influence of human activities on the earth

1. Pendahuluan

Wilayah pesisir merupakan pusat aktifitas kegiatan perekonomian, sosial budaya dan pertahanan keamanan terhadap perubahan lingkungan sekitarnya. Sebagai pusat aktifitas kegiatan perekonomian, wilayah pesisir merupakan wilayah yang potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan. Sekitar 65% penduduk Indonesia bermukim disekitar wilayah pesisir (Dahuri dkk.,2004). Untuk wilayah tertentu terutama kawasan khusus yang telah ditetapkan menjadi kawasan ekonomi, merupakan kawasan yang perubahannya sangat signifikan. Pemanfaatan kawasan khusus yang optimal ini ditujukan dalam upaya meningkatkan dan percepatan pembangunan ekonomi daerah sehingga memerlukan wilayah maupun kawasan yang mendukung untuk kawasan dimaksud. Perubahan dan pemanfaatan kawasan tersebut mengakibatkan degradasi kawasan yang berdampak pada lingkungan fisik, sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar kawasan.

Perubahan dan pemanfaatan kawasan tersebut dapat berupa penggunaan lahan di suatu wilayah. Penggunaan lahan berhubungan dengan kegiatan manusia pada suatu bidang lahan (Lillesand dan Kiefer 1993). Penggunaan lahan suatu wilayah terkait dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya. Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan semakin intensifnya aktivitas penduduk di suatu wilyah berdampak pada makin meningkatnya perubahan penggunaan lahan, untuk itu perlu diketahui perubahan penggunaan lahan tersebut serta dampaknya terhadap kehidupan sosial dan perekonomian di wilayah yang diteliti. Wilayah yang diteliti merupakan wilayah pesisir yaitu Kecamatan Bontang Selatan yang memiliki letak geografis 0° 01' LU-0° 8' LU dan 117° 23' BT-117° 32' BT dan merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur. Kecamatan ini terdiri dari enam kelurahan, yaitu Kelurahan Berbas Pantai, Kelurahan Bontang Lestari, Kelurahan Setimpo, Kelurahan Tanjung Laut, Kelurahan Berbas Tengah dan Kelurahan Tanjung Laut Indah.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi mengenai perubahan penggunaan lahan sebagai bahan kajian berkaitan dengan perubahan aspek sosial ekonomi penduduk di wilayah yang diteliti. Masalah yang akan dibahas cukup luas, dan dengan demikian perlu ditetapkan sejumlah batasan untuk penelitian yang akan dilakukan, yaitu pengolahan data spasial dan data tekstual di wilayah penelitian, menganalisis perubahan penggunaan lahan dari data penginderaan jauh tahun 2006 dan data tahun 2012, serta membuat kaitan antara dampak perubahan penggunaan lahan dengan aspek sosial dan ekonomi di wilayah tersebut. Aspek sosial yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah perubahan jumlah penduduk serta indikator kependudukan dan perubahan jenis lapangan usaha penduduk serta perubahan jumlah tenaga kerja. Sedangkan aspek ekonomi yang akan dibahas adalah perubahan tingkat produksi dan produktivitas pada sektor pertanian, perubahan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) dan perubahan kemiskinan pada daerah penelitian.

2

Gambar 1. Kecamatan Bontang Selatan (BPN, 2012)

2. Metodologi

Adapun metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah:

  • a. Melakukan studi literatur dari berbagai macam sumber seperti tugas akhir, buku, artikel, dan tulisan ilmiah lain yang berhubungan dengan penelitian,
  • b. Melakukan pengumpulan data baik data spasial berupa citra digital tahun 2006 dan 2012 yang telah bergeoreferensi, peta penggunaan lahan Kota Bontang tahun 2006 dalam format (.shp) dan Peta Batas Administrasi Kecamatan Bontang Selatan dalam format (.shp) serta data tekstual berupa dokumen data statistik kondisi sosial ekonomi wilayah penelitian yang diperoleh dari instansi pemerintahan.
  • c. Membuat klasifikasi penggunaan lahan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-6728.3-2002 yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) untuk skala 1: 50.000.
  • d. Pengolahan data spasial, dengan cara mendigitasi citra berdasarkan klasifikasi yang telah dibuat untuk mendapatkan peta penggunaan lahan. Membandingkan dari dua peta penggunaan lahan tahun 2006 dan 2012 untuk memperoleh peta perubahan penggunaan lahan.
  • e. Pengolahan data tekstual, dengan cara mengekstrak informasi dari dokumen data statistik untuk mendapatkan data perubahan sosial dan ekonomi penduduk setempat
  • f. Analisis perubahan penggunaan lahan dan kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi.
  • g. Membuat Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan.

Data yang digunakan serta sumber dan fungsi data tersebut dapat dilihat pada Tabel.1 berikut:

Taloel 1. DataSpasialdanDataTekstual
NoDataJenisSumberFungsi
1Citra Satelit Ikonos Tahun 2006
yang sudah bergeoreferensi
SpasialBadan Pertanahan Nasional
Republik Indonesia
Interpretasi Secara Visual Penggunaan
Lahan
2Citra Satelit Quickbird Tahun
2012 yang sudah bergeoreferensi
SpasialBadan Pertanahan Nasional
Republik Indonesia
Interpretasi Secara Visual Penggunaan
Lahan
Peta Penggunaan Lahan Kota
Bontang Tahun 2006 dalam
format digital (.shp)
SpasialBadan Pertanahan Nasional
Republik Indonesia
Data pendukung dalam proses digitasi
4Peta Batas Administrasi
Kecamatan Bontang Selatan
dalam format digital (.shp)
SpasialBadan Pertanahan Nasional
Republik Indonesia
Data pendukung dalam proses digitasi
5Bontang Dalam Angka Tahun
2006
TekstualBadan Pusat Statistik Kota
Bontang
Sumber Data Dalam Pengolahan Data
Tekstual
6Bontang Dalam Angka Tahun
2012
TekstualBadan Pusat Statistik Kota
Bontang
Sumber Data Dalam Pengolahan Data
Tekstual

Tahap kegiatan yang dilakukan disajikan dalam bentuk diagram alir sebagaimana dapat dilihat pada gambar 2.

6

3. Hasil

3.1 Pengolahan Data Spasial

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peta penggunaan lahan tahun 2006, peta penggunaan lahan tahun 2012, peta perubahan penggunaan lahan tahun 2006-2012 serta tabel penggunaan dan perubahan penggunaan lahan.

5

Gambar 3. Peta Penggunaan Lahan Tahun 2006

Pada penggunaan lahan tahun 2006 seperti pada Gambar 3, penggunaan lahan di Kecamatan Bontang selatan meliputi Prasarana Transportasi, Bangunan Industri non Pertanian, Jasa Pelayanan Umum, Danau atau Waduk, Hutan, Ladang, Lahan Terbuka, Permukiman, Sawah dan Tambak dengan total luas penggunaan lahan 11.065,05 Ha. Penggunaan lahan terbesar adalahn hutan yaitu sebesar 5.558,86 Ha dan yang terkecil adalah danau atau waduk yaitu sebesar 2,01 Ha.

2

Gambar 4. Peta Penggunaan Lahan Tahun 2012

Pada penggunaan lahan tahun 2012 seperti pada Gambar 4, klasifikasi masih sama dengan penggunaan lahan tahun 2006 tetapi dengan luasan yang berbeda. Penggunaan lahan yang paling besar masih digunakan untuk hutan yaitu sebesar 5.553,77 Ha dan yang terkecil adalah danau atau waduk sebesar 2,01 Ha.

Pada Gambar 5 dapat dilihat peta perubahan penggunaan lahan dimana terdapat penggunaan lahan yang berubah dan juga terdapat penggunaan lahan yang tidak berubah. Penggunaan lahan yang berubah ini dapat dikelompokan menjadi perubahan lahan yang bernilai positif (+) berarti terjadi penambahan jumlah lahan dan perubahan yang bernilai negatif (-) berarti terjadi pengurangan jumlah lahan. Perubahan penggunaan lahan yang bertambah paling besar terjadi pada perubahan lahan permukiman sebesar 46,19 Ha sedangkan perubahan penggunaan lahan yang berkurang paling besar terjadi pada perubahan penggunaan lahan terbuka sebesar 93,08 Ha. Perubahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

2

Gambar 5. Peta Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2006 – 2012

Tabel 2. Penggunaan dan Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Bontang Selatan

NoPenggunaan Lahan Tahun 2006Luas (Ha)Penggunaan Lahan Tahun 2012 Luas (Ha)Perubahan Penggunaan Lahan
1Prasarana Transportasi39,19 Prasarana Transportasi39,190
2Bangunan Industri non Pertanian473,69 Bangunan Industri non Pertanian473,690
3Jasa Pelayanan Umum60,85 Jasa Pelayanan Umum60,850
4Danau atau Waduk2,01 Danau atau Waduk2,010
5Hutan5.558,86 Hutan5.553,77(-) 5,09
6Ladang387,31 Ladang391,44(+) 4,13
7Lahan Terbuka3.617,01 Lahan Terbuka3.523,93(-) 93,08
8Permukiman690,15 Permukiman736,34(+) 46,19
9Sawah69,09 Sawah73,89(+) 4,8
10Tambak166,89 Tambak209,94(+) 43,05
Total11.065,05 Total11.065,050

3.2 Pengolahan Data Tekstual

Hasil pengolahan data tekstual ini berupa tabel-tabel yang berisi tentang kondisi sosial dan ekonomi penduduk dan wilayah penelitian. Data sosial penduduk dapat dilihat pada Tabel 3, yaitu tentang perubahan jumlah penduduk menurut jenis kelamin di wilayah penelitian, Tabel 4 menjelaskan tentang indikator kependudukan, Tabel 5 menjelaskan tentang perubahan jumlah penduduk menurut jenis lapangan usaha, dan Tabel 6 menjelaskan tentang perubahan jumlah tenaga kerja di wilayah penelitian.

Tabel 3. Jumlah Penduduk di Kecamatan Bontang Selatan Menurut Jenis Kelamin.

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin
No.Tahun Laki-Laki (Jiwa)Perempuan (Jiwa)Total (Jiwa)
1200663.94261.245125.187
2200766.84762.853129.700
3200869.42764.085133.512
4200969.24868.101137.349
5201072.83467.953140.787
6201178.16671.064149.230

Sumber: (BPS, 2007) dan (BPS, 2012)

Tabel 4. Indikator Kependudukan di Kecamatan Bontang Selatan.

Indikator Kependudukan
Indikator PendudukLaki-Laki (Jiwa) Perempuan (Jiwa) Total (Jiwa)
Datang4.6923.2517.943
Pindah1.3891.1792.568
Kematian15399252
Kelahiran1.3061.2612.567

Sumber: (BPS, 2007) dan (BPS, 2012)

Tabel 5. Jumlah Penduduk di Kecamatan Bontang Selatan Menurut Jenis Lapangan Usaha.

Jumlah Penduduk Menurut Lapangan Usaha
Lapangan Usaha ( Jiwa )
No TahunPertanian
Perikanan
Industri
Pengolahan
Trasportasi dan
Pergudangan
120061.8389826.9912.452
220072.4662.0466.0341.674
320083.276*1.676
420094.979*6.3812.083
520101.5312.0535.5132.142
620111.6352.9486.5582.231

*Penggabungan dari Pertanian dan Perikanan Sumber: (BPS, 2007) dan (BPS, 2012)

Tabel 6. Jumlah Penduduk yang Bekerja di Kecamatan Bontang Selatan.

Perubahan Jumlah Tenaga Kerja
No. TahunTenaga Kerja
Jumlah(Jiwa)Persentase(%)
1200640.83032,62
2200745.98535,45
3200850.70037,97
4200950.46536,74
5201051.70736,73
6201162.36841,79

Sumber: (BPS, 2007) dan (BPS, 2012)

Sedangkan hasil pengolahan data ekonomi dapat dilihat pada Tabel 7 mengenai perubahan tingkat produksi dan produktivitas pada sektor pertanian, Tabel 8 tentang perubahan pendapatan domestik regional bruto dan Tabel 9 mengenai perubahan laju kemiskinan di wilayah penelitian.

Tabel 7. Tingkat Produksi dan Produktivitas Pada Sektor Petanian di Kecamatan Bontang Selatan.

Sumber: (BPS, 2007) dan (BPS, 2012)

Perubahan Tingkat Produksi dan Produktivitas Pada Sektor Pertanian
Tahun
Sektor Pertanian2006
2011
Luas Panen (Ha)12818
SawahProduksi (Kuintal)4.096576
Produktivitas (Kuintal/Ha)3232
Luas Panen (Ha)267130
LadangProduksi (Kuintal)5.5893.864
Produktivitas (Kuintal/Ha)20,9329,72
TambakJumlah Perikanan Budi Daya (Unit)380460
Total Produksi (Ton)205,75.531,5

Tabel 8. Pendapatan Domestik Regional Bruto di Kecamatan Bontang Selatan.

Pendapatan Domestik Regional Bruto ( PDRB )
Lapangan Usaha ( Juta Rupiah )Total
No TahunPertanian* Perikanan*Industri
Pengolahan
Trasportasi dan
Pergudangan
Dengan Migas Tanpa Migas
1200640.757,7948.998.097,09111.179,9150.865.149,13 4.673.365,13
2200742.289,5851.840.139,89118.716,5153.842.569,90 5.350.881,47
3200843.616,4172.565.333,40127.677,9474.716.372,12 6.436.823,72
4200943.412,2150.224.310,94138.307,7652.664.324,61 7.137.927,97
5201045.428,0950.359.503,88149.454,3753.037.253,10 8.259.067,96
6201148.640,1058.897.272,11162.019,5361.925.526,03 9.543.416,81

*Pada PDRB digabung dalam satu sektor Sumber: (BPS, 2007) dan (BPS, 2012)

Tabel 9. Laju Kemiskinan di Kecamatan Bontang Selatan.

Laju Kemiskinan
Penduduk Miskin
No.TahunJumlah(Jiwa)Persentase(%)
120069.8997,86
220079.8037,87
320089.5047,26
420099.0046,66
520109.4026,67
620119.2706,31

Sumber: (BPS, 2007) dan (BPS, 2012)

4. Pembahasan

Penggunaan lahan untuk permukiman di wilayah Kecamatan Bontang Selatan ini merupakan penggunaan lahan yang paling besar perubahannya yaitu pada tahun 2006

penggunaan lahan untuk permukiman ini adalah 690,15 Ha, kemudian pada tahun 2012 bertambah sebesar 46,19 Ha menjadi 736,34 Ha.

Dampak perubahan lahan permukiman tersebut terhadap aspek sosial dilihat dari pertumbuhan penduduk pada lokasi penelitian yang relatif tinggi, yakni rata-rata 2,68 % dimana pertumbuhan penduduk disuatu wilayah akan diikuti dengan pertumbuhan lahan untuk permukiman. Komposisi pertumbuhan penduduk jika dilihat dari indikator kependudukan maka penyebab tingginya jumlah pertumbuhan penduduk di daerah penelitian ini adalah penduduk yang datang yaitu sebesar 7.943 jiwa, seperti dapat dilihat pada Tabel 4.

Kecenderungan pertambahan jumlah penduduk disebabkan oleh penduduk yang datang ini berkaitan dengan keberadaan perusahaan pengelolaan minyak dan gas yang cukup besar di daerah penelitian yaitu PT. Badak NGL sehingga akan menarik minat masyarakat untuk bekerja di perusahaan tersebut. Dapat dilihat pada Tabel 5, jumlah penduduk yang bekerja di sektor industri pengolahan merupakan jumlah yang paling banyak dari pada sektor lainnya.

Penggunaan lahan untuk tambak pada tahun 2006 sebesar 166,89 Ha sedangkan pada tahun 2012 bertambah sebesar 43,05 ha menjadi 210,29 Ha. Dampak perubahan lahan tambak ini terhadap aspek sosial dapat dilihat dari jumlah penduduk di daerah penelitian yang bekerja pada sektor perikanan yaitu pada tahun 2006 sebanyak 2.046 jiwa penduduk jumlah tersebut meningkat sebesar 902 jiwa sehingga pada tahun 2011 menjadi 2.948 jiwa penduduk yang bekerja pada sektor perikanan ini merupakan sektor lapangan pekerjaan yang dominan diantara sektor pertanian, seperti dapat dilihat pada Tabel 5.

Pertambahan jumlah penduduk yang bekerja di sektor perikanan ini akan berpengaruh pada jumlah produksi ikan di wilayah penelitian ini dimana pada tahun 2006 produksi ikan sebesar 205,7 Ton dan pada tahun 2011 bertambah sebanyak 5.325,8 Ton menjadi 5.531,5 Ton seperti dapat dilihat pada Tabel 7. Dengan adanya pertumbuhan produksi perikanan ini akan berpengaruh pada pendapatan daerah di daerah penelitian seperti dapat dilihat pada Tabel 8.

Pada Tabel 8 menunjukan tingkat pendapatan daerah dari sektor perikanan yang tergabung dalam salah satu dari Sembilan sektor ekonomi yang ada pada Pendapatan Daerah Regional Bruto yaitu sektor pertanian meningkat dari Rp.40.757.790 pada tahun 2006 meningkat sebesar Rp.7.882.310 menjadi Rp.48.640.100 pada tahun 2011.

Penggunaan lahan untuk sawah dan ladang pada tahun 2006 berturut-turut adalah 69,09 Ha dan 387,31 Ha sedangkan pada tahun 2012 jumlah tersebut bertambah sebesar 4,8 Ha untuk sawah dan 13,36 Ha untuk ladang tetapi pada penggunaan lahan tahun 2012 juga terjadi perubahan penggunaan lahan untuk ladang berubah menjadi permukiman sebesar 9,24 Ha sehingga pada penggunaan lahan tahun 2012 luas ladang menjadi 391,43 Ha dan untuk penggunaan lahan sawah menjadi 73,89 Ha.

Dari total penggunaan lahan untuk sawah di daerah penelitian ini hanya sebesar 18 Ha yang merupakan area panen pada tahun 2011 dengan jumlah produsi sebesar 576 kuintal berarti tingkat produktifitasnya adalah sebesar 32 kuintal/Ha. Sedangkan untuk penggunaan lahan ladang dari total penggunaan lahan hanya 130 Ha yang merupakan area panen dengan jumlah produksi sebesar 3.864 kuintal berarti tingkat produktifitasnya adalah sebesar 29,72 kuintal/Ha dapat dilihat pada Tabel 7. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa tingkat produktifitas yang kecil dari sektor pertanian ini sehingga pada daerah penelitian ini masih mengandalkan suplai bahan makanan dari daerah lain.

Apabila dilihat dari jumlah penduduk yang bekerja pada sektor pertanian ini maka dapat dilihat bahwa jumlah penduduk yang bekerja pada sektor pertanian pada tahun 2006 yaitu sebesar 2.466 jiwa sedangkan pada tahun 2011 sebesar 1.635 jiwa , dari jumlah tersebut menunjukkan bahwa terjadi penyusutan jumlah sebesar 831 jiwa, hal ini dikarenakan bahwa jumlah produksi yang berdampak pada jumlah pendapatan pada sektor pertanian ini yang relatif kecil sehingga penduduk banyak yang mencari pekerjaan pada sektor lain seperti pada sektor perikanan dan lain-lain.

Pada sudut pandang ekonomi dapat dilihat bahwa pendapatan daerah pada sektor pertanian ini memang mengalami kenaikan yaitu pada tahun 2006 sebesar Rp.40.757.790 menjadi Rp.48.640.100 pada tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar Rp.7.882.310, tetapi penyumbang terbesar dari sektor pertanian ini adalah pendapatan pada sektor perikanan.

Penggunaan lahan hutan merupakan penggunaan lahan yang terbesar di Kecamatan Bontang Selatan yaitu pada tahun 2006 penggunaan lahan hutan sebesar 5.558,56 Ha sedangkan pada tahun 2012 sebesar 5.553,77 Ha dimana besar perubahannya adalah 4,79 Ha. Dari aspek sosial lahan hutan ini akan memberikan lapangan usaha baru bagi penduduk dengan memanfaatkan hasil hutan ini atau menggunakannya untuk lahan yang lain sehingga akan menunjang juga dari segi ekonomi yaitu pendapatan bagi penduduk dari hasil hutan tersebut.

Penggunaan lahan untuk lahan terbuka ini pada tahun 2006 yaitu sebesar 3.617,01 Ha sedangkan pada penggunaan lahan tahun 2012 berkurang sebesar 93 Ha menjadi 3.523,91 Ha. Dari perubahan tersebut dapat dilihat bahwa penggunaan lahan untuk lahan tebuka ini pada tahun 2012 berubah menjadi tambak sebesar 43,4 Ha, permukiman sebesar 36,62 Ha, ladang sebesar 9,64 Ha, sawah sebesar 4,8 Ha dan hutan sebesar 1,71 Ha. Perubahan tersebut menunjukan bahwa sebagian besar perubahan lahan tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan sosial penduduk seperti untuk permukiman dan untuk kebutuhan ekonomi penduduk yaitu untuk tambak,sawah dan ladang.

Pada penggunaan lahan hasil penelitian ini juga terdapat penggunaan lahan yang tidak mengalami perubahan seperti penggunaan lahan untuk prasarana transportasi, bangunan industri non pertanian, jasa pelayanan umum dan danau atau waduk, namun demikian penggunaan lahan tersebut juga memberikan pengaruh terhadap kehidupan sosial dan ekonomi penduduk setempat, hal ini dapat dilihat pada tabel 5 dan tabel 8 menunjukan perubahan tenaga kerja dan pendapatan daerah yang berkorelasi dengan penggunaan lahan tersebut.

Secara umum perubahan penggunaan lahan ini berdampak positif bagi daerah dan penduduk setempat dimana hal ini dapat dilihat pada tabel 6 dan tabel 9 yang menunjukan perubahan tenaga kerja dan perubahan kemiskinan di daerah penelitian ini, dapat dilihat bahwa jumlah tenaga kerja bertambah sebesar 21.538 jiwa dan kemiskinan berkurang sebesar 1,55 % dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2011.

5. Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan pada penelitian ini, didapat kesimpulan sebagai berikut:

  • a. Penggunaan lahan di Kecamatan Bontang selatan meliputi permukiman, tambak, sawah, ladang, hutan, lahan terbuka, prasarana transportasi, bangunan industri non-pertanian, jasa pelayanan umum dan danau atau waduk dengan total luas penggunaan lahan 11.065,05 Ha.
  • b. Penggunaan lahan terbesar adalah hutan yaitu 5.553,77 Ha pada tahun 2012, sebagian besar terdapat pada Kelurahan Bontang Lestari yang merupakan kawasan hutan lindung dan yang terkecil adalah penggunaan lahan untuk danau atau waduk yaitu sebesar 2,01 Ha.
  • c. Perubahan penggunaan lahan dari tahun 2006 sampai tahun 2012 sebesar 112,58 Ha. Perubahan dengan pertambahan luas terbesar adalah penggunaan lahan untuk permukiman yaitu sebesar 46,19 Ha dan perubahan dengan pengurangan luas terbesar adalah penggunaan lahan untuk lahan terbuka yaitu sebesar 93,08 Ha.
  • d. Perubahan penggunaan lahan ini berkaitan dengan kondisi sosial penduduk dilihat dari perubahan jumlah penduduk yaitu pada tahun 2006 jumlah penduduk sebanyak 125.187 jiwa dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 149.230 jiwa dimana komposisi dari pertambahan jumlah penduduk ini yang paling berpengaruh adalah jumlah penduduk yang datang ke daerah penelitian yaitu sebanyak 7.943 jiwa pada tahun 2011, serta dilihat dari perubahan jumlah tenaga kerja sebesar 21.538 jiwa dari tahun 2006 sampai tahun 2011.
  • e. Perubahan penggunaan lahan ini berkaitan dengan kondisi ekonomi penduduk dilihat dari perubahan pendapatan daerah yang meningkat dari tahun 2006 sebesar Rp.4.673.365.130,- menjadi Rp.9.543.416.810,- pada tahun 2011 dan perubahan tingkat kemiskinan di wilayah tersebut yang menurun sebesar 1,55 % dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2011.

6. Daftar Pustaka

Arsyad, S., (1989). Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor.

Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional)., (2002). Penyusunan Neraca Sumber Daya – Bagian 3: Sumber Daya Lahan Spasial. SNI 19-6728.3-2002. Cibinong.

BPN (Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia)., (2012). Monitoring dan Evaluasi Pemafaatan Kawasan. Jakarta.

BPS (Badan Pusat Statistik Kota Bontang)., (2007) : Bontang dalam Angka 2007, Bontang.

BPS (Badan Pusat Statistik Kota Bontang)., (2012) : Bontang dalam Angka 2012, Bontang.

Dahuri, R., Rais, J., Ginting, SP., Sitepu, HJ., (2004). Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu, Edisi Revisi. Pradnya Paramita. Jakarta.

Haryani, P., (2011). Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan dan Perubahan Garis Pantai di DAS Cipunagara dan Sekitarnya, Jawa Barat. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lillesand, T.M., dan R.W. Kiefer., (1997). Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.

Sutanto, (1986)., Penginderaan Jauh Jilid I. Gadjah Mada University Press. Bulaksumur, Yogyakarta.

References

  1. Arsyad, S., (1989). Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor.
  2. Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional)., (2002). Penyusunan Neraca Sumber Daya - Bagian 3: Sumber Daya Lahan Spasial. SNI 19-6728.3-2002. Cibinong.
  3. BPN (Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia)., (2012). Monitoring dan Evaluasi Pemafaatan Kawasan. Jakarta.
  4. BPS (Badan Pusat Statistik Kota Bontang)., (2007) : Bontang dalam Angka 2007, Bontang.
  5. BPS (Badan Pusat Statistik Kota Bontang)., (2012) : Bontang dalam Angka 2012, Bontang.
  6. Dahuri, R., Rais, J., Ginting, SP., Sitepu, HJ., (2004). Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu, Edisi Revisi. Pradnya Paramita. Jakarta.
  7. Haryani, P., (2011). Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan dan Perubahan Garis Pantai di DAS Cipunagara dan Sekitarnya, Jawa Barat. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
  8. Lillesand, T.M., dan R.W. Kiefer., (1997). Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.
  9. Sutanto, (1986)., Penginderaan Jauh Jilid I. Gadjah Mada University Press. Bulaksumur, Yogyakarta.